|
Selama perang Dunia 1 & 2, sejumlah relawan Amerika
yang tergabung dalam AFS (American Field Service) bekerja sebagai supir
ambulans dan menolong mereka yang terluka di medan pertempuran. Mereka
tergugah hatinya melihat kejamnya akibat peperangan. Setelah perang usai,
pada tahun 1947 kegiatan ini mereka alihkan menjadi kegiatan pertukaran
pelajar antara Amerika Serikat dengan berbagai negara di dunia (secara
bilateral) dalam rangka menciptakan saling pengertian dan persahabatan
menuju perdamaian dunia.
Dua orang relawan AFS yang menjadi pelopor kegiatan pertukaran pelajar ini adalah Piatt Andrew dan Stephen Galatti. Galatti pernah berkata, “Bila ada yang perlu kita benci, itulah peperangan”. Mereka berpikir bahwa b ila anak-anak muda, dari berbagai bangsa, yang hati dan pikirannya masih terbuka saling mengenal dan bersahabat, tidak mustahil mereka dapat menjadi jembatan agar dunia tidak lagi berperang.
 |
 |
Piatt Andrew |
Stephen Galatti |
Sejak tahun 1970an pertukaran pelajar ini berkembang pesat dan juga terjadi antara berbagai negara diluar Amerika Serikat (multilateral). Nama AFS pun sudah menjadi logo dan tidak merupakan kepanjangan dari American Field Service lagi karena program juga dijalankan oleh negara-negara lain di seluruh dunia selain Amerika Serikat. Hingga saat ini AFS telah mempertukarkan lebih dari 220.000 peserta program dari 54 negara di dunia. AFS DI INDONESIA
Kegiatan AFS di indonesia dimulai oleh Kak Wartomo Dwijoyuwono, yang pada tahun 1956 bersama kak Muhammad Diponegoro dan kak Ibrahim Kadir dikirim ke Nebraska, Amerika Serikat untuk mengikuti Youth Specialist Program selama empat setengah bulan, atas undangan pemerintah Amerika Serikat. Kak Wartomo berjumpa dengan sejumlah pelajar dari berbagai negara di Eropa, yang tengah mengikuti program AFS, dan beliau memprakarsai turut sertanya Indonesia dalam program tersebut.
Bermulanya dari hanya mengirim tujuh pelajar (diantaranya almarhum Z.A Maulani dari Banjarmasin dan Taufiq ismail dari Pekalongan) untuk mengikuti program satu tahun, kini berkembang menjadi lebih dari seratus peserta setiap tahunnya yang mengikuti program setahun maupun program jangka pendek.
Dalam perjalanannya, terjadi beberapa pergantian pengelola program AFS
di Indonesia, mulai dari kak Wartomo sebagai pembawa bibitnya, kemudian
Yayasan Beasiswa Internasioanal yang dipimpin oleh kak Wartomo dan Ny.
Djuwari (kini dikenal sebagai Ibu Wijaya). Selanjutnya pengelolaan program
ini ditangani oleh Ikatan Returni AFS (IRA), dan pada tahun 1985 didirikanlah
Yayasan Bina Antarbudaya, yang mengelola program hingga saat ini.
AFS Statement of Purpose
AFS is an international, voluntary, non-governmental, non-profit organization
that provides intercultural learning opportunities to help people develop
the knowledge, skills and understanding needed to create a more just and
peaceful world.
The Core Values and Attributes of AFS
AFS enables people to act as responsible global citizens working for
peace and understanding in a diverse world. It acknowledges that peace
is a dynamic concept threatened by injustice, inequity and intolerance.
AFS seeks to affirm faith in the dignity and worth of every human being
and of all nations and cultures. It encourages respect for human rights
and fundamental freedoms without distinction as to race, sex, language,
religion or social status.
AFS activities are based on our core values of dignity, respect for differences,
harmony, sensitivity and tolerance.
(Adopted at the 1993 World Congress)
|